Minggu, 26 Juni 2016

Undangan Pernikahan.

Dengan Menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Pertama-tama izinkan lah Mamay untuk mempersembahankan puji syukur kepada Allah tuhan semesta alam yang telah memberikan umur kepada Mamay hingga saat ini.
Sahabatku tercinta, sebelumnya dengan segala kerendah hatian Mamay ingin meminta maaf jika tak ada sebuah surat undangan resmi atau pemberitahuan yang terkesan mendadak. Semoga kalian dapat memahaminya.
Sahabatku tercinta, dengan tulisan ini Mamay ingin memohon kerendah hatian dari semuanya untuk memberikan do’a restu atas rencana pernikahan Mamay dengan aa Reza Tri Atmanagara yang insyaallah akan dilaksanakan dirumah Mamay pada hari senin, 3 Agustus 2015 nanti.
Mamay dengan senang hati menyambut kehadiran kalian pada hari senin nanti dan andai tidak dapat hadir sungguh Mamay bisa mengerti karena setiap orang pastilah memiliki kesibukan masing-masing.
Tapi Mamay harap ketidak hadiran kalian tersebut tidak menghentikan do’a kalian atas pernikahan Mamay dan Aa. Karena Mamay rasa tidak ada hadiah yang lebih berharga dibandingkan dengan sebuah do’a yang tulus dari kalian, dan Mamay sungguh mengharapkan do’a-do’a itu.
Akhir Kata, Mamay berdo’a semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan kebaikan yang berlipat ganda.
--Mamay & Aa Reza Tri Atmanagara--

kau curi hatiku!

Siapa yang mencuri hati siapa!?!?
Jika aku yang mencuri hatimu, kenapa sekarang aku yang merasa kehilangan, hampa dan tak sempurna!!!
Katakanlah, siapa yang mencuri hati siapa!?!?

Bukan malam ini

Andai saja ada cukup keberanian, malam ini kamu tak akan diam disana!
Kan kuculik kamu, kupeluk erat, kutangisi, dan tak kulepas.
 Bukan tuk malam ini, dan malam malam lain nya.
Jangan sekarang kau pergi, jangan sekarang kamu pergi...

doa malam ini.

Malam ini doaku tak banyak,
pertama tolong lenyapkan bayang wajah monyet hitam di atas pohon itu!
karena jantungku mau lari jika ingat mukanya.
Kedua, mohon ganti dan perbanyak dengan wajahnya.

Bukan rembulan...

Bukan untuk dimiliki tapi untuk dicintai.
Istilah ini berlaku bukan hanya untuk rembulan itu, tapi juga kamu.

Nanti Kau Rasa...

Suatu saat nanti, aku yakin...
Aku akan sangat merindukan suara tawamu di belakangku.
Dan kamu merindukan, perut kecilku tuk di peluk.
Ah, bahkan sudah terasa rindunya dari sekarang, bukan?

Untuk Ku.

Tersenyumlah yang manis malam ini, untukku.
Karena esok, senyuman mu, sayangnya, bukan untuk ku lagi.

Cinta Lelaki

Aku lelaki, karena itu sesal ku sebentuk hening.
Dan cintaku sehening malam.
Dunia tak tau, tapi kamu telah merasakan nya!

Isyarat Tiga Kata

Seribu kata telah terucap.
Tiga kata yang terlewat.
Untunglah, kita menyampaikan nya dengan isyarat.
Isyarat tiga kata itu, jelas dalam pelukanmu, dalam tawamu, dalam genggammu, dalam diammu, dalam matamu.

Kamis, 23 Juni 2016

berkabung

siapapun yang mati hari ini, ikut bergembira untukmu.


siapapun yang hidup hingga hari ini, aku turut berduka untuk kamu.


kemudian aku akan berkabung dalam selimut hitam kepedihanku.